BAGAIMANA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN


PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PEMBERDAYAAN GURU
(Peran Kepala sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan di Sekolah)
Oleh: Drs. Muh. Yusuf Nur
Guru/Urs. Kurikulum SMP Negeri 29 Makassar

I. PENDAHULUAN

Saat kita memasuki abad ke-21, perencana pendidikan dan administrasi pendidikan terus dituntut untuk mengidentifikasi pelbagai factor yang akan membentuk masyarakat secara keseluruhan. Salah satu factor terpenting adalah bagaimana penataan dan pengaturan serta tanggung jawab dalam bidang pendidikan.
Keinginan pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan sebagai wujud tanggung jawab dalam pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia telah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional
Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan yang ada adalah melakukan pemeberdayaan kepala sekolah. Hal ini kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru-guru dan karyawan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya kegiatan sekolah sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepala sekolah itu sendiri. Seluruh sumber daya harus didayagunakan sedemikian rupa. Para guru perlu digerakkan kea rah suasana kerja yang positif, menggairahkan dan produktif. Bagaimanapun guru merupakan input yang pengaruhnya sangat besar pada proses belajar mengajar. Demikian pula penataan fisik dan administrasi perlu dibina agar disiplin dan semangat belajar yang tinggi bagi siswa. Kesemuanya ini mensyaratkan perlunya penerapan kepemimpinan pendidikan oleh seorang kepala sekolah.

Sebagai pemimpin pendidikan di sekolah, kepala sekolah wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala sekolah berkewajiban memimpin, mengkoordinasikan, mengadministrasikan, mengawasi semua bawahannya dan mengadakan hubungan masyarakat.

II. PERMASALAHAN

Dari judul ini dapat dikemukakan pertanyaan untuk mengungkapkan permasalahan: Adakah peran kepala sekolah dalam pemberdayaan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan ?
Untuk menjawab pertanyaan perlu diketahui:
1. Peran kepala Sekolah
(Bagaimana peran kepala sekolah dalam memberdayakan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan)
2. Pemberdayaan Guru
(Perlunya pemberdayaan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan)

III. PEMBAHASAN MASALAH

A. Peran Kepala Sekolah

Di antara pemimpin pendidikan yang bermacam-macam jenis dan tingkatannya, kepala sekolah merupakan pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah. Hal ini karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang professional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kegiatan lembaga pendidikan sekolah di samping diatur oleh pemerintah, sesungguhnya sebagian besar ditentukan oleh aktivitas kepala sekolahnya. Menurut Pidarta (1990), kepala sekolah merupakan kunci sukses sekolah dalam mengadakan perubahan. Sehingga kegiatan meningkatkan dan memperbaiki program dan proses pembelajaran di sekolah sebagian besar terletak pada diri kepala sekolah itu sendiri.
Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki peran dan tanggung jawab sebagai manajer pendidikan, pemimpin pendidikan, supervisor pendidikan dan adiministrator pendidikan
1. Manajer Sekolah
Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah. Sebagai manajer pendidikan di sekolah, maka tugasnya adalah merencanakan sesuatu atau mencari strategi yang terbaik, mengorganisasi dan mengkoordinasi sumber-sumber pendidikan yang masih berserakan agar menyatu dalam melaksanakan pendidikan dan mengadakan control terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kepala sekolah memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan, karena atas perannya sebagai manajer di sekolah dituntut untuk mampu:
a. Mengadakan prediksi masa depan sekolah misalnya meprediksi kualitas yang diinginkan masyarakat.
b. Melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah.
c. Menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut.
d. Menyusun perencanaan, baik perencanaan strategis (renstra) maupun perencanaan operasional (renop).

e. Menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan.
f. Melakukan pengendalian atau control terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya.
2. Pemimpin Sekolah
Lipoto (1988) mengatakan bahwa sebagai pemimpin pendidikan, maka kepala sekolah harus mampu menggerakkan orang lain agar secara sadar dan sukarela melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan apa yang diharapkan pemimpin dalam mencapai tujuan.
Kepemimpinan kepala sekolah terutama ditujukan kepada guru-guru karena merekalah yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan. Namun demikian, kepemimpinan kepala sekolah juga ditujukan kepada para tenaga kependidikan lainnya serta siswa.
Hal senada diakatakan Wahjosumdjo (2001), peran kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah memiliki tanggung jawab menggerakkan seluruh sumberdaya yang ada di sekolah sehingga melahirkan etos kerja dan produktivitas yang tinggi dalam mencapai tujuan.
Selanjutnya Wahjosumidjo (2001) berpendapat bahwa untuk dapat menjadi pemimpin sekolah yang baik, kepala sekolah harus:
a. Adil
b. Mampu memberikan sugesti .
c. Mendukung tercapainya tujuan
d. Mampu sebagai katalisator
e. Menciptakan rasa aman
f. Dapat menjadi wakil organisasi
g. Mampu menjadi sumber inspirasi
h. Bersedia menghargai

Dalam pelaksanaannya, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah, (Departemen Pendidikan Nasional (2000) sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut:
a. Kepribadian yang kuat
Kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati dan memiliki kepekaan social.
b. Memahami tujuan pendidikan dengan baik
Pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya.
c. Pengetahuan yang luas
Kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang lain yang terkait.
d. Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah yaitu:
1) keterampilan teknis, misalnya teknis menyusun jadwal pelajaran, memimpin rapat
2) keterampilan bubungan kemanusiaan, isalnya bekerjasama dengan orang lain, memotivasi, guru dan staf
3) keterampilan konseptual, misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya
Dalam masalah ini Wahjosumidjo (2001) berpendapat, bagi kepala sekolah yang ingin berhasil menggerakkkan para guru dan staf serta para siswa agar berperilaku dalam mencapai yujuan sekolah adalah:
a. Menghidarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru, staf dan para siswa

b. Harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sdengkan membujuk adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar.
Pemimpin yang efektif selalu memanfaatkan kerjasama dengan para bawahan untuk mencapai cita-cita organisasi (Pidarta, 1990). Di samping itu menurut Mulyasa (2002), kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang:
a. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancer dan produktif
b. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
c. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan
d. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah
e. Bekerja dengan tim manajemen
f. Berhahsil mewujudkan yujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
3. Administrator Sekolah
Kepala sekolah sebagai adimistrator dalam lembaga pendidikan memopunyai tugas-tugas antara lain: melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan terhadap bidang-bidang seperti: kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan. Jadi kepala sekolah harus mampu melakukan:

a. Pengelolaan pengajaran
b. Pengelolaan kepegawaian
c. Pengelolaan kesiswaan
d. Pengelolaan sarana dan prasarana
e. Pengelolaan keuangan
f. Pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat (Drs. Sukarto Indrafachrudi; 1986, 80 s/d 83).
Selanjutnya untuk memperlancar kerja dan membina tanggung jawab bersama di kalangan staf sekolah, maka tugas-tugas kepala sekolah dalam bidang administrator dalam arti luas seperti yang telah disebutkan di atas itu sebagian dipencarkan dan didelegasikan penyelenggaraan dan pertanggungan jawab peraturannya kepada guru-guru, staf tata usaha sekolah dan petugas lainnya. Jadi pada prinsipnya fungsi kepala sekolah dalam tugas administrator hanyalah sebagai coordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan administravsi sekolah.
4. Supervisor Sekolah
Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Menurut Suhertian (2000), supervise adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas.
Supervisi merupakan pengembangan dan perbaikan siatuasi belajar mengajar yang pada akhirnya perkembangan siswa. Perbaikan situasi belajar mengajar bertujuan untuk:

a. Menciptakan, memperbaiki, dan memelihara organisasi kelas agar siswa dapat mengembangkan minat, bakat dan kemampuan secara optimal.
b. Menyeleksi fasilitas belajar yang tepat dengan problem dan situasi kelas
c. Mengkoordinasikan kemauan siswa mencapai tujuan pendidikan
d. Meningkatkan moral siswa
Lebih lanjut Ngalim Purwanto (1987) mengemukakan bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan keterampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai.
Sasaran supervisi pendidikan pada hakekatnya menyentuh pemberdayaan guru. Secara praktis fungsi supervisi pendidikan dapat dilihat dari 3 aspek: pertama, bagaimana membantu guru dalam proses belajar mengajar. Yang dimaksudkan di sini adalah proses belajar mengajar dalam bentuk suatu system di mana guru dan siswa terlibat aktif di dalamnya. Kedua, bagaimana membantu guru dalam relasi pengajaran dengan siswa-siswa. Pendidikan pada hakekatnya merupakan hubungan antara guru dan siswa. Untuk itu guru perlu mengenal siswa dalam relasi pendidikan. Ketiga, bagaiamana membantu mengembangkan sikap professional. Pengembangan sikap professional dimanifestasikan dalam pribadi guru yang meliputi moral dan kegairahan kerja, kode etik jabatan, serta semangat bersatu dalam kelompok.

Beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah merupakan penyelenggara pendidikan yang juga sebagai:
a. Manajer lembaga pendidikan
b. Menjadi pemimpin pendidikan
c. Penggerak lembaga pendidikan
d. Supervisor atau pengawas pendidikan
e. Pencipta iklim bekerja dan belajar yang kondusif
Sesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas, kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif. Menurut Mantja (2000), keefektifan manajemen pendidikan ditentukan oleh profesionalisme manajer pendidikan. Adapun sebagai manajer terdepan kepala sekolah merupakan figure kunci dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah. Kepala sekolah tidak hanya meningkatkan tanggung jawab dan otoritasnya dalam program-program sekolah, kurikulum dan keputusan personil, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan akuntabilitas keberhasilan siswa dan programnya. Kepala sekolah harus pandai memimpin kelompok dan mampu melakukan pendelegasian dan wewnang (Nur Kholis, 2003)
Peran kepala sekolah dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah sebagai designer , motivator, fasilitator dan perantara (Nur Kholis, 2003). Sebagai designer kepala sekolah harus membuat rencana dengan memberikan kesempatan untuk terciptanya diskusi-diskusi menyangkut isu-isu dan permasalahan dis eputar sekolah dengan tim pengambil keputusan sekolah. Tentu saja dalam hal ini harus melibatkan berbagai komponen terkait secara demokratis.
B. Pemberdayaan Guru
Andy Kirana (1997) mengatakan bahwa kepemimpinan yang memberdayakan, mengimplikasikan suatu keinginan untuk melimpahkan

tanggung jawab dan berusaha membantu dalam menentukan kondisi di mana orang lain dapat berhasil. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus menjelaskan apa yang diharapkannnya, harus menghargai kontribusi setiap orang, harus membawa lebih banyak orang keluar kotak organisasi dan harus mendorong setiap orang untuk berani mengemukakan pendapat.
Sedangkan menurut Mulyadi dan Setiyawan (1999) pemberdayaan staf adalah pemberian wewenang kepada staf untuk merencanakan dan membuat keputusan tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa harus mendapatkan otorisasi secara eksplisit dari atasan. Pemberian wewenang oleh manajemen kepada staf dilandasi oleh keberdayaan staf. Pemberdayaan bersifat mendukung budaya dan tidak menyalahkan dan kesalahan dianggap kesempatan untuk belajar.
Pemberdayaan menurut Andy Kirana (1997) harus didukung oleh sejumlah etika yang konsisten dan orang-orang yang hidup dengan etika tersebut memberikan contoh bagi yang lain. Etika dari pemimpin yang memberdayakan adalah menghormati orang dan mengahargai kekuatan dan konstribusi mereka yang berbeda-beda, menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka, jujur, bertanggung jawab untuk bekerjasama dengan yang lain, mengakui nilai pertumbuhan dan perkembangan pribadi, mementingkan kepuasan pelanggan, berusaha memenuhi kebutuhan akan adanya perbaikan sebagai suatu proses yang tetap di mana setiap orang harus ikut ambil bagian secara aktif. Nilai-nilai etis ini akan membantu organisasi menjadi lebih kuat dan menjadi tempat yang lebih baik untuk bekerja bagi setiap individu.
Pada dasarnya pemberdayaan merupakan pelepasan atau prembebasan, bukan pengendalian energi manusia yang dilakukan dengan meniadakan segala peraturan, prosedur, perintah dan lain-lain yang tidak perlu, yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. Pemberdayaan bertujuan mengahpuskan hambatan-hambatan sebanyak

mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya, melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memperlambat reaksi dan merintangi aksi mereka (Stewart, 1998).
Menurut Mulyadi dan Setiyawan (1999), untuk mewujudkan suatu pemberdayaan dalam organisasi, sorang pemimpin harus memahami tiga keyakinan dasar berikut ini:
1. Subsidiarity.
Prinsip ini mengajarkan bahwa badan yang lebih tinggi kedudukannya tidak boleh mengambil tanggung jawab yang dapat dan harus dilaksanakan oleh badan yang berkedudukan lebih rendah. Dengan kata lain, mencuri tanggung jawab orang merupakan suatu kesdalahan, karena keadaan ini akhirnya menjadikan orang tersebut tidak terampil.
Kenyataannya, dimasa lalu organisasi lebih banyak dirancang untuk memastikan bahwa kesalahan tidak pernah terjadi. Dalam prinsip lama organisasi, pengambilalihan tanggung jawab bawahan oleh atasan merupakan hal yang normal terjadi dan dibenarkan dengan suatu alasan bahwa suatu organisasi dibentuk untuk menghindari kesalahan.
2. Staf pada dasarnya baik.
Inti pemberdayaan staf adalah keyakinan bahwa orang pada dasarnya baik. Meskipun kadang-kadang orang gagal dan kadang-kadang orang melakukan kesalahan, namun tujuan orang adalah menuju kebaikan. Sebagai manusia yang berakal sehat dan makhluk yang berpikir, orang memiliki kecendeerungan alami untuk berhasil dalam pekerjaannya.
Untuk dapat memberdayakan orang lain, atasan harus secara sederhana yakin bahwa sepanjang mmasa, hamper setiap orang, hampir selalu, akan menggunakan kekuatnnya dalam mewujudkan visinya dan dipandu oleh nilai-nilai kebaikan.

Pemberdayaan staf dapat dipandang sebagai pemerdekaan karena dengan pemberdayaan, atasan tidak lagi menggunakan pengawasan, pengecekan, verifikasi dan mengatur aktivitas orang yang bekerja dalam organisasi. Atasan melakukan pemberdayaan dengan memberikan pelatihan dan teknologi yang memadai kepada staf, memberikan arah yang benar dan membiarkan staf untuk mengerjakan semua yang dapat dikerjakan oleh mereka.
3. Hubungan yang berbasis kepercayaan.
Pemberdayaan staf menekankan aspek kepercayaan yang diletakkan oleh manajemen kepada staf. Dari pemberdayaan staf, hubungan yang tercipta antara manajemen dengan stap adalah hubungan berbasis kepecayaan atau sebaliknya kepercayaan yang dibangun oleh staf melalui kinerjanya.
Lebih lanjut Stewart (1998) mengatakan ada enam cara yang dapat digunakan pemimpin dalam mengembangkan pemberdayaan bawahan yakni: meningkatkan kemampuan staf atau bawahan, memperlancar tugas-tugas staf , konsultas, bekerjasama, membimbing bawahan dan memberi dukungan.
Namun apapun cara yang ditempuh oleh pemimpin dalam memberdayakan staf atau bawahan perlu mengacu pada empat sudut pandangan yaitu: Visi, realita, person dan keberanian.
Visi, pemimpin yang memberdayakan melihat semuanya secara luas dan mendorong pemahaman anggota tim tentang bagaimana cara mereka menyesuaikan diri dengan situasi dan berbagi dengan anggota tim tentang kemungkinan-kemungkinan baru di masa mendatang. Mereka memotivasi yang lain dengan visi tentang apa yang mereka coba meraih dan mendorong tim untuk memikirkan cara sampai ke sana.
Relaita, kepemimpinan yang memberdayakan menanggapi dan mencari fakta-fakta tentang apa yang sebenarnya

sedang terjadi. Mereka tetap menjaga agar staf atau bawahan tetap memeriksa kenyataan dan tidak mudah terperdaya atau mengabaikan tanda-tanda preringatan mereka menyadari akan keberadaan orang lain dan keberadaan mereka sendiri.
Person (orang), pemimpin yang memberdayakan sensitive terhadap orang lain, siap memenuhi kebutuhan orang lain dan melakukannya dengan cara etis yang akan membangun saling percaya dan menghormati.
Keberanian, pemimpin yang memberdayakan adalah pemimpin yang siap berinisiatif atau mau mengambil resiko. Mereka tidak terbelenggu oleh cara-cara lama dalam menangani sesuatu di masa lalu atau oleh ketakutan-ketakutan akan kesalahan yang tidak beralasan.
Dalam memberdayakan staf atau bawahan seorang pemimpin di samping harus berpegang pada etika dan prinsip-prinsip pemberdayaan yang ada, ia juga harus berani berbaur dengan staf atau bawahan, mampu menjadi pembimbing dan motivator bagi mereka serta mampu menunjukkan dirinya sebagai sosok yang dapat diteladani akibat pemberdayaan itu sendiri.

IV. KESIMPULAN

Dengan memperhatikan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran kepala sekolah dalam memberdayakan guru mencakup hal-hal berikut:
1. Pelimpahan wewenang berdasarkan kemampuan guru
2. mempermudah aturan atau prosedur, menyelesaikan konflik dan hambatan lainnya untuk mendukung tugas guru
3. Memberikan arahan, bimbingan dan konsultasi serta menjelaskan apa yang diharapkan dari kepemimpinan kepala sekolah

4. Menghargai kontribusi setiap guru dan memberikan motivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliknya secara maksimal
5. Mendorong guru untuk berani mengemukakan pendapat, saran atau memberikan kritik dalam berbagai kesempatan
6. Memfsilitasi para guru dalam membuat perencanaan dan pengambilan keputusan
7. Tidak mengambil tanggung jawab yang menjadi kewenangan guru
8. memiliki inisiatif dan siap menghadapi resiko
9. bertindak realistis dan dipandu oleh nilai-nilai kebenaran dalam mewujudkan visi sekolah
10. Memberikan pelatihan dan teknologi yang diperlukan oleh guru
11. Bekerjasama dan menjalin hubungan dengan guru berbasis kepercayaan
12. menciptakan rasa aman dan kepuasan bagi guru.

DAFTAR PUSTAKA

SMP Negeri 29 MakassarDepartemen Pendidikan Nasional R.I; 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Depdiknas
Kholis Nur; 2003, manajemen Berbasis Sekolah, Teori Model dan Aplikasi, Jakarta, CV Gramedia Widi Aksara
Kirana, Andy; 1997, Etika manajemen, Ancaman Bisnis Abad 21, Yogyakarta, CV Andy
Pidarta, I Made; 1990, Perencanaan Pendidikan dengan pendekatan Sistem, Jakarta, PT Rineka Cipta

———–; 1997; landasan Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara
———–; 1999, pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara
Purwanto, N; 1987, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, bandung, CV Remaja Karya
Wahjosumidjo; 1999, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta, PT Radja Grafindo Persada
————; 2001, kepemimpinan dan Motivasi, Jakarta, PT Gholia Indonesia
Soekarto Indrafachrudi; 1986, Kepemimpinan Pendidikan, Sub Proyek P3T IKIP Malang

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s