Karya Tulis


MANFAAT PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP  PENINGKATAN MINAT BACA SISWA

Oleh: Drs. Muhammad Yusuf Nur  Urs. Kurikulum SMP Neg. 29 Makassar


  1. I. PENDAHULUAN

Dalam rangka menjawab tantangan dan hambatan bangsa Indonesia di masa mendatang perlu penyediaan sumber daya manusia yang mampu merancang dan melaksanakan pembangunan. Untuk itu, perlu pembinaan secara terus menerus dan terpadu baik konsepsional maupun operasional. Sasaran utamanya adalah siswa-siswa yang berada pada lembaga pendidikan Dasar dan menengah sebagai pondasi yang sangat menentukan pada jenjang pendidikan yang lenih tinggi.

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 tercantum tujuan negara antara lain ” … mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Selanjutnya pasal 31 ayat 2 menyatakan, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sebagai tindak lanjut dari pasal tersebut, maka lahirlah Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Melihat kenyataan dewasa ini, di mana orang tua siswa kurang mengerti mengenai pendidikan terutama di daerah pedesaan. Sehingga anak mereka kurang arahan dan bimbingan terhadap pendidikan. Akibatnya, anak-anak bebas tanpa memperhatikan dan mengulangi pelajarannya dari sekolah. Malah sebagian anak, justeru ikut membantu orang tuanya mencari nafkah.

Kendala-kendala itu perlu  mendapat penanganan secara seksama, agar anak dapat menyadari betapa pentingnya pendidikan. Itulah sebabnya penulis memilih judul ” Manfaat Perpustakaan Sekolah terhadap Peningkatan  Minat Baca Siswa” dengan alasan sebagai berikut:

  1. Bahwa siswa-siswa yang berada pada lembaga pendidikan Dasar dan Menengah merupakan awal pendidikan yang perlu mendapat perhatian dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mapu melanjutkan pembangunan nasional.
  2. Pada umumnya siswa yang berada di daerah pedesaan kurang memperhatikan pelajaran setelah usai jam sekolah. Persolan ini dapat menghambat kemajuan siswa yang bersangkutan untuk menerima pelajaran yang lebih tinggi.

Secara umum, perpustakaan dikenal berfungsi sebagai pusat pendidikan, pusat informasi dan sebagai  pusat rekreasi. Melihat fungsi perpustakaan tersebut khususnya perpustakaan sekolah, maka dapat dikatakan bahwa jantung pendidikan terletak pada perpustakaan dengan segala konsekuensinya.

Seiring dengan era modernisasi, di mana perkembangan era informasi dan komunikasi begitu pesat membuat sistem pendidikan harus melengkapi segala akibatnya tanpa harus menghindar dari era modernisasi tersebut. Yang terpenting adalah bagaimana lembaga-lembaga pendidikan kita tetap eksis pada nilai-nilai yang diembannya.

Kampanye tentang peningkatan kualitas  Sumber Daya Manusia (SDM), sesungguhnya lingkungan pendidikan menempati  urutan skala prioritas dalam mencetak kualitas Sumber Daya  Manusia. Semakin bagus kualitas luaran suatu sekolah, semakin bagus ukuran kualitasnya. Oleh karena itu lingkungan sekolah meruapakan sarana yang sangat efektif dan strategis dalam pembinaan peningkatan  Sumber Daya Manusia. Maka tidak alternatif lain kecuali lingkungan sekolah harus berpacu untuk mengoptimalkan secara keseluruhan potensi yang dimilikinya termasuk mengoptimalkan peran  dan fungsi  perpustakaan sekolah.

  1. II. PERMASALAHAN

Dari judul ini dapat dikemukakan pertanyaan untuk mengungkapkan permasalahan: Adakah manfaat Perpustakaan Sekolah terhadap peningkatan Minat baca siswa ?. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini perlu diketahui:

1.  Pengertian Perpustakaan Sekolah

(Apa yang dimaksud dengan perpustakaan sekolah ?)

2.  Perlunya perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat  baca siswa

(Mengapa  perpustakaan sekolah diperlukan dalam meningkatkan minat   baca  siswa ?)

3.   Dampak perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa

(Bagaimana dampak perpustakaan sekolah terhadap minat baca bagi siswa

III. PEMBAHASAN MASALAH

  1. Pengertian Perpustakaan Sekolah

Secara umum kita sudah dapat mengerti bahwa perpustakaan sekolah yaitu suatu tempat yang diperlengkapi dengan sarana tempat  koleksi menyimpan buku-buku atau bahan informasi secara sistematis dan teratur rapi. Pengertian semacam itu dimaksudkan agar dibutuhkan sewaktu-waktu dengan mudah segera diambil sesuai dengan apa yang dikehendaki.

Untuk lebih jelasnya berikut ini penulis kemukakan dua pendapat perpustakaan sebagai berikut:

  1. Pendapat Drs. H. Abdul Gani Cangara:

Perpustakaan berarti kumpulan buku-buku, majalah, surat kabar, dan koleksi lainnya yang disusun sedemikian rupa sehingga dalam waktu relatif singkatdapat diketemukan kembali apabila diperlukannya.

  1. Pendapat Ny. Wahjoeti Marjono dan tahju Wiraatmadja:

Perpustakaan sekolah ialah merupakan tempat kumpulan buku-buku dan bahan-bahan pendidikan yang diatur dan diorganisasikan dengan baik sehingga dapat membantu para pendidik dan anak didik dalam semua kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Dari kedua pendapat tersebut di atas, maka tampak jelas bahwa perpustakaan itu bukan sekedar koleksi buku-buku tetapi merupakan suatu tempat sumber informasi dan tempat menggali ilmu pengetahuan yang sangat baik. Tidak sedikit perpustakaan sekolah yang kurang dapat dimanfaatkan secara baik, bahkan ada yang terbengkalai. Hal ini dikarenakan dari pihak pembina dan pengelola perpustakaan termasuk guru dan kepala sekolah kurang memperhatikan akan manfaat dan kegunaan perpustakaan sekolah. Untuk itu perlu adanya pembinaan dan perhatian secara saksama dari semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, utamanya para guru, petugas perpustakaan dan kepala sekolah agar perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Di samping pertugas perpustakaan  yang mempunyai tanggung jawab langsung penyelenggaraan perpustakaan, perlu ada partisipasi dari guru dan stap yang lain agar dapat memberikan motivasi kepada anak. Sehingga mau  memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan baik.  Hal ini dapat dimulai dengan mengenal buku-buku yang relevan dengan mata pelajaran yang diajarkan sampai dengan tatacara memanfaatkan buku-buku perpustakaan yang baik beserta pustakawan.

Koleksi buku-buku dan bahan-bahan informasi lainnya di perpustakaan perlu dikembangkan. Artinya perlu ditambah jumlahnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sesuai dengan perkembangan kurikulum sendiri. Untuk menanmbah volume koleksi perpustakaan dapat ditempuh dengan jalan usaha sendiri dan dapat pula ditempuh dengan cara mengusulkan ke pemerintah sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan cara melibatkan seluruh komponen yang ada di sekolah, maka perpustakaan dapat berkembang, terbina dan terpelihara dengan baik. Kriteria perpustakaan yang dikategorikan baik dan memadai antara lain dapat memenuhi kebutuhan di pembaca atau pengunjung perpustakaan, dapat ,memberi kenyamanan, ketenangan. Sehingga suatu perpustakaan sangat perlu ditata dengan sebaik mungkin.

Berdasarkan uraian dan defenisi perpustakaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang diamaksud dengan perpustakaan adalah suatu tempat yang diperlengkapi dengan sarana  berupa kumpulan koleksi buku-buku, majalah, suart kabar serta bahan-bahan pendidikan sebagai bahan informasi yang diatur dan diorganisasikan dengan baik sehingga dapat membantu anak didik maupun pendidik di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

  1. Perlunya  Perpustakaan Sekolah dalam meningkatkan Minat Baca Siswa

Perpustakaan sekolah sebagai bagian dalam lembaga pendidikan  sebagai media pendidikan dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Sehingga konsekuensinya masing-mamsing perpustakaan sekolah harus  mampu mengikuti arus perkembangan informasi dan pesan-pesan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar guru-guru dan siswa dapat menikmati perkembangan informasi itu melalui perpustakaan sekolah.

Sistem belajar pada era modernisasi tidak terlepas dari suatu upaya untuk membiasakan anak didik untuk belajar mandiri melalui proses membaca, berpikir, mencari, menemukan, mengelola dan menyimpulkan sendiri melalui sumber belajar yang tersedia. Pada sisi inilah terlihat pentingnya perpustakaan hadir di tengah-tengah lingkungan sekolah untuk menyerap dan menghimpun informasi untuk kegiatan belajar mengajar, menyediakan sumber-sumber rujukan yang tepat guna untuk siswa dan guru, menyediakan bahan-bahan bagi kegiatan rekreasi, meningkatkan minat  baca dan mengembangkan daya nalar.

Untuk mengsosialisasikan peran dan fungsi perpustakaan sekolah secara optimal, maka serang pustakawan harus mampu mempersiapkan berbagai metode untuk mempromosilan keberadaan perpustakaan sekolah dengan  mempersiapkan bahan-bahan koleksi yang siap untuk dimanfaatkan tanpa mengabaikan sasaran yang ingin dicapai yaitu meningkatkan minat baca siswa khususnya dan para pengguna perpustakaan pada umumnya.

Upaya pengembangan perpustakaan sekolah, prospeknya cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa peraturan pemerintah seperti yang tercakup dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem pendidikan nasional pada fasal 35 secara tegas menyatakan bahwa pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan.

Sementara dipahami bahwa salah satu sumber belajar yang amat penting, sekalipun bukan satu-satunya adalah perpustakaan sekolah. Oleh karena itu eksistensi perpustakaam sekolah dengan sendirinya memungkinkan para tenaga kependidikan dan para peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk memperluas, memperdalam dan mengambangkan pengetahuannya dengan membaca bahan perpustakaan yang mengandung pesan-pesan ilmu pengetahuan yang diperlukan.

Yang menjadi persoalan sesungguhnya adalah  sejauh mana kesiapan lembaga pendidikan menyikapi nilai keberadaan perpustakaan itu sendiri dan memanfaatkan seluruh peluang yang ada secara optimal untuk pembinaan danpengembangan pengelolaan perpustakaan.

Sisi lain yang dapat mendukung prospek pengembangan perpustakaan adalah adanya perhatian pemerintah dalam hal pengembangan profesi perpustakaan agar dapat berdaya guna dan berhasil guna  yaitu ditandai dengan diterbitkannya  Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara  Nomor: 18/Menpan/1988 tanggal 29 Februari 1988 tentang Angka Bagi Jabatan Pustakawan dan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor : 53649/MPK/1988 dan Nomor 15/SE/1988 tanggal 16 Juli 1988.

Perhatian pemerintah tentang angka kredit bagijabatan pustkawan,implikasinya memberikan  motivasi anggota pustakawan agar dat mengelola perpustakaan secara profesional. Peningkatan profesionalisme pustakawan masih perlu dipacu secara maksimal, khususnya pada  pengelola perpustakaan sekolah. Oleh karena masih adanya sekolah yang belum memiliki perpustakaan yang layak disebut juga  perpustakaan.

Pengembangan perpustakaan sekolah baik sekolah negeri maupuin di sekolah swasta masih sangat dilematis. Berbagai variabel yang menjadi faktor penyebabnya diantaranya kurang dipahaminya fungsi perpustakaan  sehingga semangat untuk mengelolanya terjadi kejenuhan di antara sebagian sekolah. Pada sisi lain adalah sulitnya untuk melengkapi bahan-bahan koleksi perpustakaan akibat  karena mahalnya harga-harga buku. Sementara bantuan buku-buku dari proyek pengadaan buku Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan masih sangat terbatas. Itupun hanya terbatas pada bantuan buku-buku paket saja yang sesungguhnya tidak termasuk ke dalam koleksi bahan pustaka.

Penyebab sangat fatal adalah terjadinya pergeseran nilai yaitu adanya hambatan pada sisi mnat baca  terhadap sebagian anak didik, sehingga untuk mengoptimalknan peran dan fungsi perpustakaan sekolah memerlukan kerja ekstra keras daripara pendidik maupun pustakawan yang mengelola perpustakaan sekolah. Kerjasama antara guru-guru mata pelajaran dengan pihak poengelola perpustakaan sekolah harus sejalan, serasi dan seimbang dalam mempromosikan fungsi perpustakaan sekolah kepada peserta didik. Kerjasama seperti inilah yang masih jarang ditemukan pada sebagian sekolah. Bahkan kalau mau diteliti secara obywektif, mungkin masih ditemukan  adanya guru mata pelajaran yang belum pernah measuki perpustakakan sekolah. Sehingga konsekuensi logisnya koleksi buku-buku perpustakaan tidak dipahaminya secara dekat.

Adanya pergeseran nilai berupa penurunan minat baca, secara sederhana dapat kita lihat pada lingkungan keluarga kita masing-masing.  Sebagai contoh kecil, pada tahun 70-an ke bawah, di mana perkembangan arus informasi melalui media elektronik berupa radio, dan televisi masih terhitung langka sehingga untuk menemukan informasi mengenai pesan-pesan ilmu pengetahuan, para peserta didik harus mencarinya melalui kegiatan membaca. Akan tetapi pada era tahun 80-an sampai sekarang arus informamsi bergitu cepat dan pesat terutama kemajuan media elektronik berupa radia dan televisi sehingga kejadian-kejadian dunia begitu cepat bisa dinikmati oleh obyek informamsi. Hal inio untuk mencari informasi dengan bermuara kepada media eletronik yang pada gilirannya aktivitas membaca nyaris  terlupakan

Salah satu alternatif untuk mengangkat kembali kepermukaan minat baca terhadap anak didik  di sekolah, sebagai hipotesis  dari adanya pergeseran nilai terhadap penurunan  minat baca adalah perlu adanya pencanangan  wajib berkunjung ke perpustakaan. Hal ini dapat terwujud  apabila ada kerja sama yang baik antara  guru-guru mata pelajaran dengan pihak pengelola perpustakaan.

Pencanangan wajib kunjungan keperpustakaan  khususnya di SMP Negeri 29 Makassar  telah diterapkan sejak tahun pelajaran 2004/2005.  Selama diterapkannya wajib kunjungan setiap siswa ke perpustakaan  yang selama ini perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat mengambil buku paket atau buku mata pelajaran yang disarankan oleh guru sudah mulai menampakkan hasil yang menggembirakan.

Sejak adanya peraturan yang diterapkan pada siswa, maka lama kelamaan siswa tidak lagi merasa suatu hal yang harus dilakukan, tetapi pada umumnya siswa sudah menyadari betapa pentingnya membaca  bahan-bahan pustaka demi  menambah ilmu pengetahuan. Dan sejak itu pula pelayanan diperpustakaan  harus bekerja ekstra untuk meladeni siswa  untuk  mengembangkan pengetahuan yang mereka inginkan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas di bawah ini akan dikemukan peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan sejak tahun 2004/2005  sampai dengan tahun 2006/2007 seperti tabel berikut ini

DAFTAR   KUNJUNGAN  PERPUSTAKAAN  SMP NEGERI 29 MAKASSAR  DARI TAHUN  2004 S/D 2007

NO. TAHUN PELAJARAN JUMLAH PENGUN-JUNG PERSENTASE JENIS BUKU YANG DIBACA
BUKU PAKET BUKU FIKSI BUKU NON FIKSI
1. 2004/2005 125 18 % 98

( 78 %)

7

( 6 % )

20

( 16 % )

2. 2005/2006 298 42 % 240

(81 %)

15

(5 % )

43

( 14 %)

3. 2006/2007 325 46 % 115

(36 % )

30

(9 % )

180

( 55 %)

SumberData Pengunjung Perpustakaan  tahun 2007

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa  siswa yang mengunjungi perpustakaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa kesadaran siswa dalam hal manfaat perpustakaan terhadap peningkatan minat baca siswa  sudah mengalami kemajuan yang berarti.

Untuk mengetahui lebih mendalam tentang keberadaan perpustakaan sekolah sebagai sarana penunjang pendidikan, maka perlu diketahui fungsi dan tujuan perpustakaan itu sendiri dalam peningkatan  minat baca siswa sebagai berikut:

  1. Fungsi Perpustakaan

Pada dasarnya perpustakaan sekolah berfungsi sebagai edukatif, informatif dan rekreasi.

1). Fungsi Edukatif

Seperti diketahui bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Hal ini sesuai dengan Tap MPR Nomor II/MPR/1983, bidang pendidikan butir (e) sebagai berikut: Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat.

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pendidikan di sekolah dan sekaligus berfungsi mendidik para pengunjung perpustakaan. Sebab dengan membaca buku-buku yang cukup bermutu, pembaca akan dapat meningkatkan pengetahuannya, memperluas budi pekertinya dan diperluas pandangan hidupnya.

2)      Fungsi Informatif

Di sekolah, informasi mempunyai banyak peran utama  dalam proses belajar mengajar. Sebab dengan informasi maksud pendidikan akan dapat sampai pada sasarannya yaitu anak didik. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana informasi pendidikan. Manakala suatu ilmu pengetahuan belum disampaikan guru di depan kelas, maka anak didik dapat memperoleh informasi dari perpustakaan. Hal-hal yang ditanyakan siswa dan guru tidak tidak dapat menjawabnya, maka jawabannya dapat diperoleh dari perpustakaan. Di sampingitu guru sendiri juga dapat memperoleh sumber informasi dari perpustakaan yang  seterusnya juga akan disampaikan kepada anak didik.

3)        Fungsi dokumentatif

Dengan adanya perpustakaan, maka naskah penting, bahan informasi dan buku-buku ilmu pengetahuan yang sangat penting dengan mudah dapat disimpannya sebagai bahan dokumentasi, misalnya buku Kitab Undang-Undang, karangan sastra, karangan tokoh-tokoh dari berbagaidisiplin ilmu.

4)        Fungsi Rekreasi

Di samping ketiga fungsi tersebut, maka perpustakaan juga mempunyai fungsi hiburan atau rekreasi. Hal ini dapat dibuktikan karena perpustakaan juga memuat buku-buku bacaan populer yang di dalamnya berisi hiburan dan juga terdapat di buku-buku sastra, novel, majalah, gambar-gambar, film,kaset,  dan yang lainnya semuanya dapat menghibur para pegunjung perpustakaan.

Selain keempat fungsi tersebut di atas, dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981 lebih lanjut diterangkan  tentang fungsi-fungsi perpustakaan sekolah sebagai berikut:

1)      Sebagai pusat kegiatan belajar mengajar

2)      Sebagai pusat penelitian sederhana

3)      Sebagai pusat membaca, guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.

  1. Tujuan Perpustakaan

Adapun tujuan perpustakaan itu adalah sebagai berikut:

1)      Menumbuhkan minat baca siswa

Dengan adanya perpustakaan yang lebih lengkap dan koleksi bukunya cukup bermutu sesuai dengan kebutuhan anak     dan didukung oleh keuletan guru pembimbing agar anak dapat memanfaatkan perpustakakan sekolah dengan baikkhususnya buku-buku yang ada kaitannya dengan  mata pelajaran yang disampaikan, maka lambat laun anak didik akan terbiasa membaca di perpustakaan di mana minat baca anak didik akan tumbuh dengan subur yang pada akhirnya anak akan cinta buku dan gemar membaca.

2)      Memupuk kebiasaan dan kegemaran membaca bagi anak.

Setelah minat baca anak tumbuh yang didukung sarana perpustakaan yang lengkap dan memadai, maka langkah selanjutnya adalah guru harus   dapat membimbing anak dengan memberikan motivasi agar tumbuh kegemaran dan cinta membaca buku.

3)   Menunjang kurikulum dan proses belajar mengajar

Dengan tersedianya perpustakaan yang lengkap dan memadai akan sangat menunjang kelancaran pelaksanaan kurikulum dan proses belajar mengajar. Betapa tidak,  seperti diketahui bersama bahwa perpustakaan menyediakan koleksi-koleksi buku bacaan  yang berkaitan  dengan mata pelajaran yang tervcantum dalam kurikulum dan materi  pelajaran yang disajikan dalam proses belajar mengajar juga bersumber dari buku-buku bacaan dan buku paket yang ada di dalam perpustakaan. Terlebih lagi siswanya sudah memiliki kegemaran membaca dan cinta buku.

3)      Memperluas dan memperdalam pengetahuan anak

Perpustakaan dapat memperluas dan memperdalam  pengetahuan anak  karena perpustakaan tidak hanya menyediakan buku-buku  pelajaran saja akan tetapi juga menyediakan koleksi bahan bacaan yang bersifat hiburan.

Dengan demikian bila perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik  dan minat serta kegemaran membaca buku sudah tumbuh pada setiap diri anak didik, maka  anak didik tidak hanya membaca buku-buku yang berkaitan dengan mata pelajaran,tetapi juga dapat memanfaatkan  semua koleksi yang ada pada perpustakaan sehingga pengetahuan anak semakin bertambah dan lebih mendalam.

4)      Melatih anak untuk belajar mandiri

Bila kegermaran membaca dan cinta buku sudah benar-benar dimiliki oleh anak, maka dengan sendirionya kebiasaan belajar sendiri akan tumbuh pula. Bila anak kebetulan menemukan masalah yang belum diketahui dengan spontanitas akan mencarinya dengan membaca literaratur  yang  ada di perpustakaan. Dalam hal ini guru perlu membimbing anak-anak agar dapat tumbuh dan semangat belajarnya  lebih tinggi.

Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan tersedianya perpustakaan sekolah yang lengkap dan memadai akan dapat menumbuhkan minat baca kemudian tumbuh kegemarannya membaca dan cinta buku  dan pada akhirnya  pada diri anak timbul suatu kebiasaan membaca  sebagai kebutuhan pokok serta buku merupakan teman hidupnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ny. Wahjuti Marjono dan tahju Wiraatmaja sebagai berikut:

Tujuan mendirikan perpustakaan sekolah antara lain ialah agar anak-anak gemar membaca dan mencintai buku. Dengan timbulnya kegemaran membaca mereka akan mencintai buku dan menyadari bahwa buku dapat mengisi hidup. Buku tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi teman di masa suka dan duka. Bila buku sudah menjadi sahabat dalamhidup sehari-hari, tujuan mendirikan perpustakaan sudah mengenai sasaran.

Dengan melihat tjuan tersebut di atas, maka nyatalah perlunya perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa.

  1. 3. Dampak perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa

Unsur penting dalam meningkatkan   mutu pendidikan adalah kemauan minat membaca yang pada akhiranya menjadi hobby atau kegemaran sehingga dengan sendirinya anak yang bersangkutan dapat memilih apa yang telah dibaca.

Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara dijelaskan bahwa: Tujuan pendidikan nasional  yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,berkepribadian,mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, profesional, bertanggung jawab serta sehat jasmani dan rohani.

Apabila dari sejak awal siswa mempunyai kegemaran membaca, maka mereka mampu mengembangkan wawasan berpikirnya, hingga masuk pada jenjang pendidikan lanjutan. Di samping guru sebagai metivator di sekolah, peranan orang tua siswa memberikan bimbingan dan dorongan  kepada anaknya. Begitu  pula lingkungan masyarakat sangat besar pengaruhnya pada pembinaan anak  yang dapat berpengaruh pada perkembangan  pendidikannya.

Salah satu peranan perpustakaan yang sangat penting adalah peningkatan kecerdasan bangsa, memajukan perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi.

Mengaktifkan siswa-siswa secara terus menerus pada jam tertentu memasuki perpustakaan  sekolah dengan memberikan tugas-tugas yang berhubungan dengan materi pelajaran di kelas  suatu saat siswa akan merasa berkewajiban masuk perpustakaan.

Semua aktivitas tersebut di atas merupakan upaya mencerdaskan generasi  penerus, sebagai pelanjut pembangunan bangsa.  Peranan guru sangat menentukan dalam  usaha peningkatan sumber daya manusia. Pembinaan  melalui peningkatan mutuguru, peningkatan pembinaan perilaku beragama, perilaku terpuji, penanaman rasa cinta tanah air, disiplin dankemandirian, penumbuhan minat baca,menulis, berhitung, belajar, peningkatan daya cipta, daya analisa, prakarsa dan daya kreasi, pembinaan kesadaran akan hidup bermasyarakat serta peningkatan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam GBHN 1993 berbunyi: Garis-Garis  Besar Haluan Negara telah mencantumkan poerubahan minat baca, maka sudah menjadi kewajiban para guru, orang tua siswa menumnbuhkan  minat baca. Bimbingan dan motivasi para guru sangat berperan terhadap perkembangan anak di sekolah.

Untuk menumbuhkan minat baca, sarana prasarana perpustakaan sangat penting termasuk persediaan buku-buku fiksi dan non fiksi yang ada hubungannya dengan jenjang pendidikan. Begi pula petugas perpustakaan seharusnya memiliki kemampuan profesional sehingga barang-barang  inventaris (koleksi) perpustakaan tetap utuh dan lestari. Pelayanan yang cepat dan tepat sangat diperlukan . Selain itu, para guru perlu ada persamaan langkah mengatur  waktu untuk mewajibkan siswa memasuki perpustakaan secara bergilir tiap kelas sehingga para siswa dalam satu kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan buku yang diperlukan.

Begitu pula petugas perpustakaan perlu dibekali  pelatihan khusus, sehingga dapat  melaksanakan tugasnya secara profesional. Koleksi buku-buku sebaiknya dilengkapi  sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kurikulum sehingga memudahkan guru melaksanakan tugasnya dalam proses belajar mengajar.

Walaupun perpustakaan tersebut mempunyai koleksi buku-buku yang lengkap dan sarana prasarana memadai tetapi tidak ada pengunjungnya, di mana warga sekolah tidak mempunyai minat dan kegemaran membaca maka perpustakaan tersebut tidak lebih hanya merupakan bahan pameran atau tontonan koleksi bulu-buku belaka.

Untuk menghindari keadaan yang demikian itu, maka anak didik perlu ditanamkan sifat gemar dan cinta buku. Pada dasarnya membaca itu adalah  menangkap dan memahami maksud  penulis/pengarang. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam buku Metodik Membaca dan Menulis Permulaan bahwa: membaca adalah menangkap dan memahami bahan yang tertulis.

Menurut S. Nasution M.A adalah:  ”Dalam waktu yang sama dan sejajar dengan berhitung, kepandaian menulis dan membaca tumbuh pula ……pada awalnya mereka itu bekerja hanya untuk pertumbuhan jiwa dan bathin, untuk melatih kerjasama otot dan untuk menguasai kerja urat-urat sarafnya, ……tiba pada saat yang tepat, menurut tingkat kesulitan yang tepat pula, niscaya akan timbul pada anak itu minat membaca, ingin bekerja………….

Dengan demikian bagi anak sejajar dengan kepandaian berhitung sesuai dengan tempo dan irama perkembangannya. Pada saat-saat seperti tersebut anak mulai ada keinginan memahami apa yang dibacanya. Tidak sedikit contoh anak yang kurang berminat dan kurang gemar membaca. Bahkan juga terjadi pada siswa-siswa SLTA dan bahkan mahasiswa yang kurang berminat dan gemar membaca. Kurangnya minat dan gemar membaca bagi siswa adalah sebgai akibat dari kelalaian semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak yaitu orang tua, sekolah dan masyarakat. Khususnya guru, banyak kurang memperhatikan akan pentingnya membaca terutama penggunaan waktu istirahat dan waktu lowong jam pelajaran di sekolah.

Kenyataan menunjukkan bahwa minat baca di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat menurun. Mereka hanya terpaku  pada bacaan buku wajib saja. Melihat kenyataan semacam itu, maka kepedulian orang tua sangat dibutuhkan dalam artian bahwa orang diharapkan mampu memberikan pengertian tentang kebiasaan hidup yang baik, termasuk di dalamnya  menanamkan budaya membaca sejak dini karena membaca merupakan kesempatan pendahuluan menuju jenjang pengetahuan. Disinilah letak peranan perpustakaan dalam melatih anak didik guna mengembangkan minat baca agar nantinya kebiasaan membaca tersebut akan selalu menjadi kebutuhan dalam hidup setiap siswa.

Dengan pemanfaatan perpustakaan yang lebih efektif dan efisiensi akan menanamkan kepada siswa kebiasaan-kebiasaan membaca sehingga dapat menambah wawasan dan cakrawala berpikir yang luas dan obyektif. Kebiasaan-kebiasaan  membaca ini akan memberikan suatu hubungan dekat antara yang dibaca dengan yang dipikir. Begitu berartinya manfaat membaca, maka pada tanggal 2 Mei 1995 yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional telah dicanangkan bulan buku nasional. Bahkan pihak perpustakaan Indonesia pernah mengusulkan kepada pemerintah untuk melahirkan  Hari Baca Nasional. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menggairahkan membaca dan menulis di kalangan  masyarakat pada umumnya dan khususnya para pelajar.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan  secara umum sebagai  berikut:

  1. Berdasarkan pengertian , fungsi dan tujuan perpustakaan sekolah, maka perpustakaan dapat menumbuhkan minat baca  bagi siswa
  2. Minat baca, gemar membaca dan cinta buku perlu ditanamkan sedini mungkin  sehingga menjadi kebiasaan seterusnya dan menjadi bagian dari kebutuhan hdupnya. Untuk itu perpustakaan sangat diperlukan sebagai salah satu penunjangnya,
  3. Untuk menumbuhkan minat baca perlu ada bimbingan dan dorongan yang melibatkan orang tua, guru dan masyarakat.
  4. Perpustakaan sekolah yang lengkap dan memadaui sangat diperlukan, karena sangat menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

KEPUSTAKAAN

Abdul Gani Cangara; 1983, Petunjuk Praktis Tentang Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah di Taman Kanak-Kanak, CV. Karya Bhakti, Ujung Pandang.

Nasutuion A.S; 1978, Perpustakaan Sekolah, Pusat pembinaan Perpustakaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I, Jakarta.

Tap MPR No II/MPR/1983 tentang GBHN, Departemen Dalam Negeri, Jakarta

Wahjoeti Marjono dan Tahju Wiraatmadja; 1981, Perpustakaan Sekolah, Proyek Pengembangan Penataran Guru, Bandung.

2 responses to “Karya Tulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s